Puluhan Tahun Menanti, Banjar Pagan Kelod Akhirnya Miliki Gong Kebyar Lengkap
Puluhan tahun lamanya, masyarakat Banjar Pagan Kelod menantikan momen spesial ini. Mereka akhirnya bisa menikmati Gong Kebyar lengkap, yang merupakan simbol kebanggaan dan kekayaan budaya masyarakat setempat. Penyerahan bantuan hibah dilakukan bertepatan dengan pelaksanaan piodalan di Palinggih Ratu Gede Penyarikan saat Tumpek Bubuh atau Tumpek Uduh, Saniscara Kliwon Wariga, Sabtu (23/5/2026). Dana hibah tersebut digunakan untuk mengukir plawah gamelan, memrada, sekaligus melengkapi perangkat Gong Kebyar yang sebelumnya belum sempurna.Perjuangan Panjang Masyarakat Banjar Pagan Kelod
Sebelumnya pada tahun 2024, AA Ayu Priniti bersama Made Muliawan Arya dan I Dewa Agung Gede Widiarsana telah membantu pengadaan seperangkat Gong Kebyar untuk Banjar Pagan Kelod. Namun saat itu perangkat gamelan masih belum diukir dan diprada. Kini, warga Banjar Pagan Kelod akhirnya memiliki seperangkat Gong Kebyar lengkap yang nantinya digunakan mengiringi berbagai piodalan besar di Palinggih Ratu Gede Penyarikan maupun kegiatan seni budaya banjar.Bantuan Hibah sebagai Bentuk Rasa Terima Kasih
AA Ayu Priniti mengatakan bantuan hibah tersebut merupakan bentuk rasa terima kasih kepada masyarakat Banjar Pagan Kelod yang selama ini telah mendukung dirinya hingga berhasil duduk di kursi legislatif Kota Denpasar. "Kini saatnya saya memperjuangkan aspirasi masyarakat tempat di mana saya hidup dan bermasyarakat," ujarnya. Menurut AA Ayu Priniti, Banjar Pagan Kelod memiliki potensi seni yang besar. Bahkan sejumlah seniman yang tampil pada Pesta Kesenian Bali (PKB) maupun menjadi duta Kota Denpasar berasal dari banjar tersebut. "Palegongan, semara pegulingan, dan drama gong ada di banjar ini," katanya.Impian Masyarakat Akhirnya Terwujud
Meski demikian, selama puluhan tahun Banjar Pagan Kelod disebut menjadi satu-satunya banjar adat wed atau asli Denpasar yang belum memiliki Gong Kebyar secara lengkap. Prajuru Banjar Pagan Kelod, I Wayan Adi Santika mengatakan impian masyarakat akhirnya terwujud setelah menunggu puluhan tahun. "Sejak lama kami bermimpi memiliki perangkat Gong Kebyar. Astungkara sekarang akhirnya bisa terwujud. Kami mengucapkan terima kasih kepada Bu Gek atas perjuangannya," ujar Adi Santika.Piodalan dengan Makna Khusus
Ia menjelaskan piodalan kali ini juga memiliki makna khusus karena dipuput Ida Pedanda dari Griya Tegaljingga, Lebah, Denpasar, berbeda dari biasanya yang dipimpin pemangku. Piodalan kali ini merupakan petoyan nadi dengan menggunakan upakara pulegembal serta caru panca sata. Selain itu, kegiatan juga dirangkaikan dengan pecaruan untuk menetralisir cuntaka dan berbagai unsur papa, lara, maupun klesa di kawasan banjar setelah berbagai aktivitas yang berlangsung sejak karya melaspas balai banjar tahun 2009.Rangkaian Piodalan dan Pengukuhan Pengurus Baru
Rangkaian piodalan turut disertai upacara mejaya-jaya pengurus baru Banjar Pagan Kelod periode 2026-2028 yang diketuai Ketut Subrata menggantikan kepengurusan sebelumnya. Dengan demikian, masyarakat Banjar Pagan Kelod dapat melanjutkan kegiatan seni budaya dan keagamaan dengan lebih semangat dan dinamis. Dengan adanya Gong Kebyar lengkap, diharapkan masyarakat Banjar Pagan Kelod dapat lebih mengembangkan potensi seni dan budaya mereka, serta melestarikan warisan leluhur dengan lebih baik. Ini merupakan langkah penting dalam melestarikan kekayaan budaya Bali dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya melestarikan warisan budaya.Ilustrasi - Redaksi Jumper Media Bali
0 Komentar