Pasokan Menipis, Harga Alpukat Hass Tembus Rp45 Ribu per Kilogram

Pasokan Menipis, Harga Alpukat Hass Tembus Rp45 Ribu per Kilogram

Produksi Alpukat Menurun Drastis

Petani alpukat asal Kintamani, Bangli, I Wayan Sunartha, mengatakan bahwa saat ini tanaman alpukat memasuki fase persiapan pembungaan untuk musim berikutnya. Kondisi tersebut membuat produksi buah menurun drastis. "Sekarang sudah habis panen. Tanaman sedang persiapan pembungaan untuk musim berikutnya," ujarnya. Menurut Sunartha, puncak panen alpukat lokal biasanya berlangsung pada Februari hingga Maret. Pada periode tersebut, produksi melimpah sehingga harga di tingkat petani turun cukup rendah. Saat puncak panen, alpukat hass di kebun hanya dijual sekitar Rp15 ribu hingga Rp20 ribu per kilogram. Bahkan pada Maret, harga bisa turun hingga sekitar Rp10 ribuan per kilogram.

Harga Alpukat Meningkat

Sebaliknya, ketika memasuki Mei dan Juni, pasokan mulai menipis sehingga harga meningkat. Dua pekan lalu, alpukat non-hass di kebunnya sudah dijual Rp30 ribu per kilogram. "Kalau Mei-Juni memang sudah mahal. Karena barangnya sudah sedikit," katanya. Ia menjelaskan bahwa musim panen alpukat umumnya berlangsung dari November hingga Mei. Setelah itu, tanaman memasuki masa pemulihan sebelum kembali berbunga pada Juli hingga Agustus.

Keterbatasan Fasilitas Penyimpanan

Menurut Sunartha, keterbatasan fasilitas penyimpanan juga menjadi salah satu persoalan petani. Saat panen raya, produksi melimpah tetapi belum didukung gudang berpendingin yang memadai sehingga harga sering jatuh di tingkat petani. "Kalau panen banyak, petani tidak punya tempat penyimpanan berpendingin. Akhirnya harga turun," ujarnya. Keterbatasan fasilitas penyimpanan ini membuat petani kesulitan untuk menyimpan hasil panen mereka, sehingga harga jatuh.

Pasokan dari Daerah Lain

Menurunnya produksi alpukat Bali membuat pasokan pasar mulai bergantung pada daerah lain. Saat ini, alpukat dari Lampung mulai masuk untuk memenuhi kebutuhan pasar. "Sekarang sudah mulai masuk alpukat Lampung karena barang di Bali sudah tidak ada," kata Sunartha. Hal ini menunjukkan bahwa pasokan alpukat di Bali tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pasar, sehingga harus diimpor dari daerah lain.

Dampak pada Ekspor

Sementara itu, Ketua Petani Muda Keren (PMK) Agung Wedhatama mengatakan bahwa keterbatasan pasokan tidak hanya berdampak pada pasar lokal, tetapi juga menghentikan sementara ekspor alpukat ke Dubai. Menurut Agung, sebelumnya pengiriman alpukat ke Dubai dilakukan secara rutin. Namun, ekspor terhenti karena musim panen telah berakhir dan pasokan dari petani tidak mencukupi. "Ada, sebelumnya kami rutin kirim ke Dubai. Karena musimnya habis, jadi tidak kirim lagi. Kemungkinan nanti November lagi," ujarnya. Terhentinya ekspor menunjukkan permintaan alpukat Bali di pasar luar negeri masih terbuka. Namun, kontinuitas pasokan menjadi tantangan utama bagi pelaku usaha.

Harapan untuk Musim Panen Mendatang

Pelaku usaha berharap produksi kembali meningkat pada musim panen mendatang. Jika pasokan kembali normal, ekspor alpukat ke Dubai diperkirakan dapat dilanjutkan mulai November 2026, bersamaan dengan dimulainya musim panen baru di kebun-kebun petani. Dengan demikian, diharapkan harga alpukat dapat kembali stabil dan pasokan dapat memenuhi kebutuhan pasar. Namun, untuk mencapai hal ini, perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan produksi dan kontinuitas pasokan, serta memperbaiki fasilitas penyimpanan untuk mendukung petani dalam menyimpan hasil panen mereka. Dengan demikian, industri alpukat di Bali dapat kembali berkembang dan memenuhi kebutuhan pasar, baik lokal maupun internasional.

Ilustrasi - Redaksi Jumper Media Bali

Posting Komentar

0 Komentar

Trending Now