Saat Kesunyian Menjelma Tarian di Taman Budaya Bali
Di hadapannya, ratusan pasang mata terpaku. Tepuk tangan berkali-kali terdengar dari penonton yang memadati arena. Sebagian berdiri di pinggir panggung, sebagian lagi rela berdesakan demi menyaksikan pementasan tersebut.Menari dalam Kesunyian
Tak banyak yang menyadari, Pande dan teman-temannya menari dalam kesunyian. Mereka merupakan siswa tunarungu dan tunawicara dari SLB Negeri 1 Bangli yang tampil membawakan Tari Kembang Janger dalam Rekasadana (Pergelaran) Tari Bali pada Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026. Di sisi panggung, dua guru tari terus memberikan aba-aba melalui gerakan tangan dan isyarat tubuh mengikuti setiap perubahan tempo tabuh. Itulah cara mereka menjaga agar para penari tetap selaras dengan iringan musik yang mengalun. Meski tidak dapat mendengar denting gamelan maupun nyanyian yang mengiringi tari, gerak mereka tetap kompak. Liukan tubuh, ayunan tangan, hingga ekspresi wajah mampu menghadirkan keceriaan yang menjadi ruh Tari Kembang Janger, tarian pergaulan muda-mudi Bali yang populer sejak era 1970-an.Proses Panjang di Balik Penampilan
Keluarga yang hadir tampak tak kuasa menyembunyikan rasa haru. Dari deretan kursi penonton, mereka menyaksikan putra-putrinya menari dengan penuh semangat. Di tengah keterbatasan yang dimiliki, panggung PKB menjadi ruang bagi mereka untuk menunjukkan kemampuan yang selama ini diasah dengan kerja keras. Di balik penampilan yang memukau itu tersimpan proses panjang. Selama sekitar satu bulan, para siswa berlatih secara intensif untuk mempersiapkan pementasan. Tantangannya tidak sederhana karena proses belajar tari bagi anak-anak dengan hambatan pendengaran membutuhkan kesabaran dan pendekatan khusus. "Anak didik kami ber enam, laki-laki dan perempuan, semuanya tidak mendengar dan tidak bicara. Supaya mereka mau latihan dengan maksimal itu harus dirayu, mengikuti mood mereka," ujar guru tari SLB Negeri 1 Bangli, Pande Nyoman Sunartha, usai pementasan. Menurutnya, seni tari tidak hanya menjadi media ekspresi bagi para siswa, tetapi juga membantu membangun karakter mereka. Melalui latihan yang rutin, anak-anak menjadi lebih disiplin, fokus, dan percaya diri. "Mereka menjadi lebih fokus, lebih disiplin, lebih percaya diri. Mereka ingin menunjukkan kepada masyarakat agar tidak memandang mereka sebelah mata," katanya.Pergelaran Tari yang Memukau
Penampilan Tari Kembang Janger menjadi salah satu bagian dari pergelaran yang melibatkan lebih dari 120 siswa dari 12 SLB di seluruh Bali. Masing-masing sekolah menampilkan karya terbaik yang telah dipersiapkan sejak jauh hari. Pergelaran diawali oleh SLB Negeri 1 Denpasar melalui Tabuh Penegak Palawakia dan Tari Selat Segara. Selanjutnya tampil Tari Kreasi Nitya Bhakti dari SLB Negeri 1 Karangasem, Tari Kreasi Iswari dari SLB Negeri 1 Tabanan, serta Tari Wirayuda yang dibawakan SLB Negeri 1 Gianyar. SLB Negeri 1 Badung menampilkan Tari Galang Bulan, sementara SLB Pradnyagama menghadirkan pertunjukan vokal dengan memainkan alat musik tradisional Bali. Setelah Tari Kembang Janger dari SLB Negeri 1 Bangli, penonton disuguhi Tari Sapuh Guna dari SLB Negeri 2 Denpasar, Tari Kreasi Bebarisan Swatantra dari SLB Negeri 1 Klungkung, dan Tari Kreasi Tradisi dari SLB Sushrusa. Pergelaran kemudian ditutup dengan Drama Tari Cupak Grantang yang dibawakan SLB Negeri 3 Denpasar.Komitmen untuk Memberikan Kesempatan
Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SLB Provinsi Bali, I Wayan Mudayana, mengatakan penampilan tahun ini merupakan kali kedua siswa-siswa SLB tampil dalam ajang PKB setelah sebelumnya mendapat sambutan positif dari masyarakat. Menurutnya, keterlibatan siswa berkebutuhan khusus dalam PKB bukan sekadar bagian dari pelestarian budaya Bali, tetapi juga bentuk komitmen memberikan ruang yang sama bagi mereka untuk berkembang dan menunjukkan kemampuan. "Di samping untuk melestarikan budaya Bali bagi anak-anak berkebutuhan khusus, partisipasi Satuan Pendidikan Khusus ini juga bentuk komitmen untuk memberikan kesempatan kepada anak-anak kita dalam melatih kemandirian, menunjukkan talenta mereka, bahwa mereka sesungguhnya mempunyai kelebihan yang sama pada anak-anak pada umumnya," ujarnya. Bagi Mudayana, panggung PKB bukan hanya tempat pertunjukan seni. Lebih dari itu, panggung tersebut menjadi ruang pembelajaran sekaligus kesempatan bagi siswa-siswa SLB untuk membuktikan bahwa keterbatasan tidak pernah menjadi penghalang untuk berkarya. Sore itu, ketika Tari Kembang Janger berakhir dan tepuk tangan panjang menggema di Kalangan Angsoka, pesan itu terasa begitu nyata. Mereka mungkin tidak mendengar riuh apresiasi yang diberikan penonton, tetapi senyum yang mengembang di wajah para penari seolah menunjukkan bahwa mereka mampu merasakan kebanggaan yang sama. Di atas panggung PKB, mereka tidak sedang memperlihatkan keterbatasan, melainkan menunjukkan kemampuan yang luar biasa.Ilustrasi - Redaksi Jumper Media Bali
0 Komentar