Mahasiswi Unwar Juara Lomba Puisi Nasional
Prestasi gemilang berskala nasional kembali diraih oleh mahasiswi Universitas Warmadewa (Unwar), Carolline Metta Angela Liem di bidang kesusastraan. Mahasiswi semester empat program studi Sastra Inggris, Fakultas Sastra, Unwar itu memborong dua penghargaan sekaligus dalam ajang kompetisi bergengsi Nulis Bareng Puisi Nasional yang diselenggarakan oleh Penerbit independen Kacaya.Prestasi Gemilang
Dalam kompetisi yang berlangsung sejak 17 Mei hingga 13 Juni 2026 tersebut, mahasiswi berusia 20 tahun yang akrab disapa Lin ini berhasil menembus posisi puncak. Istimewanya, Lin mengirimkan kedua buah karyanya secara bersamaan dan semuanya menyabet penghargaan di kategori yang berbeda. Puisi pertamanya yang berjudul Tentang Seribu Jelmaan Rindu berhasil mengamankan predikat Juara Harapan 3 yang diumumkan pada 8 Juni 2026. Sementara itu, puisi keduanya yang bertajuk Antara Emas dan Nasi sukses meraih penghargaan tertinggi sebagai Penulis Terbaik tingkat nasional yang diumumkan pada 13 Juni 2026.Proses Kreatif
Saat ditemui di sela Pesta Kesenian Bali (PKB), Taman Budaya Art Centre Denpasar, Minggu (21/6/2026) siang, mahasiswi berdarah Tionghoa ini membeberkan proses kreatif serta kedalaman makna di balik dua karya monumentalnya tersebut. Untuk puisi Tentang Seribu Jelmaan Rindu, Lin mengambil tema besar Merayakan Rindu yang difokuskan pada memori masa kecil. "Tema rindu memiliki spektrum luas untuk dieksplorasi secara personal. Namun, saya memilih memfokuskannya pada memori masa kecil karena itu adalah momen yang paling dirindukan oleh banyak orang. Bagi saya, memori tersebut mampu menghadirkan kedekatan emosional yang lebih menyentuh bagi para pembaca," tutur Lin kepada NusaBali.Potret Sosial
Sementara untuk puisi kedua yang mengantarkannya sebagai Penulis Terbaik, Antara Emas dan Nasi, Lin membidik potret sosial yang lebih kritis. Ia memilih tema tersebut karena isu tentang keserakahan, ketimpangan sosial, dan keadilan merupakan persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. "Tema ini cukup luas untuk dieksplorasi, tetapi juga terasa sangat personal bagi saya pribadi karena sering melihat kontradiksi nyata di lapangan; bagaimana masih banyak orang hidup berkecukupan, sementara di sisi lain ada masyarakat yang masih kesulitan memenuhi kebutuhan paling dasar. Melalui puisi ini, saya ingin mengajak pembaca merenungkan kembali makna sejati dari kesejahteraan dan pentingnya empati terhadap sesama," jelasnya.Proses Penulisan
Gadis sulung dari dua bersaudara ini mengungkapkan bahwa proses kreatif di balik penciptaan bait-bait puisinya tergolong unik dan spontan. Lin terbiasa merampungkan karya di bawah tekanan waktu yang sangat ketat, bahkan sering kali hanya satu hari sebelum batas akhir pengumpulan (deadline). Dia mengaku tantangan terbesar baginya bukan pada kelangkaan ide, melainkan kondisi mental yang kerap 'banjir ide', sehingga proses penyaringan gagasan menjadi tahap paling krusial.Dukungan Keluarga
Mahasiswi yang aktif dalam organisasi kampus English Club di bawah naungan Fakultas Sastra Unwar, Lin menunjukkan kemandirian kepenulisan yang tinggi sepanjang perlombaan. Keberaniannya menekuni jalur sastra juga mendapat dukungan penuh dari orang tuanya yang demokratis, membebaskannya dari belenggu stereotip profesi konvensional demi mengejar kecintaan sejati pada dunia literasi.Rencana Masa Depan
Kabar baiknya, kedua puisi pemenang ini dipastikan akan segera dibukukan. Lin mengungkapkan bahwa Tentang Seribu Jelmaan Rindu dan Antara Emas dan Nasi akan diterbitkan dalam sebuah buku antologi bersama berjudul Antologi Jiwa. Buku ini nantinya menjadi wadah resmi bagi karya-karya terpilih dari para penulis yang terlibat dalam ajang Nulis Bareng Puisi Nasional tersebut. Atas pencapaian luar biasa ini, Lin mengatakan bahwa pihak Universitas Warmadewa biasanya akan memberikan apresiasi resmi melalui program Warmadewa Awards pada akhir tahun, berupa insentif dan dana motivasi bagi mahasiswa berprestasi nasional. Sebelumnya, Lin juga tercatat pernah menyabet Juara 2 Nasional dalam ajang sastra yang diselenggarakan oleh Universitas Andalas pada tahun 2025.Impian Besar
Menatap masa depan, Lin mematok target besar setelah keberhasilan ganda dan rencana penerbitan antologi tersebut. "Ketika kepercayaan diri saya telah terkumpul sepenuhnya setelah Antologi Jiwa ini, impian terbesar berikutnya adalah mempublikasikan buku kumpulan puisi solo karya saya sendiri," pungkasnya. Dengan prestasi dan dedikasi yang kuat, Lin siap untuk menaklukkan dunia sastra dan meninggalkan jejak yang mendalam dalam kancah literasi Indonesia.Ilustrasi - Redaksi Jumper Media Bali
0 Komentar