Palegongan Peliatan Kembali ke Panggung PKB, Rawat Jejak Klasik dari Masa Keemasan Seni Bali

Palegongan Peliatan Kembali ke Panggung PKB, Rawat Jejak Klasik dari Masa Keemasan Seni Bali

Penampilan Palegongan Peliatan di panggung PKB XLVIII bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi menjadi upaya menghadirkan kembali jejak kejayaan Palegongan Peliatan yang telah tumbuh dan berkembang selama lebih dari satu abad. Dalam kesempatan itu, sejumlah karya klasik akan direkonstruksi, di antaranya Tari Legong Lasem Klasik Peliatan generasi 1969 serta Tabuh Liar Samas gaya Peliatan yang pernah menjadi bagian penting dari perkembangan seni Palegongan di desa tersebut.

Sejarah dan Pengaruh Palegongan Peliatan

Nama Peliatan selama ini dikenal sebagai salah satu pusat perkembangan seni pertunjukan Bali yang memiliki pengaruh kuat dari tradisi puri atau keraton. Dari desa inilah Tari Legong Lasem berkembang hingga dikenal luas dan membawa nama Bali ke panggung dunia melalui misi kesenian ke Eropa pada 1931 dalam rangkaian L Exposition Coloniale Internationale de Paris. Kepercayaan Pemerintah Kabupaten Gianyar kepada Desa Peliatan menjadi penanda bahwa tradisi Palegongan masih terus dijaga. Warisan yang diwariskan para maestro terdahulu tetap dipelajari oleh generasi penerus melalui proses latihan, pembinaan, hingga pendokumentasian agar tidak kehilangan bentuk aslinya.

Upaya Menghadirkan Kembali Karya Klasik

Ketua sekaligus pembina Sanggar Gamelan Suling Gita Semara bersama para seniman muda Peliatan melihat kesempatan tampil di PKB sebagai ruang untuk kembali mengenalkan kesenian klasik sekaligus mendalami akar tradisi yang selama ini menjadi identitas desa. Menariknya, sebagian besar penari dan penabuh yang terlibat merupakan generasi muda berusia sekitar 20 tahun. Mereka tidak hanya mempelajari teknik pertunjukan, tetapi juga mengikuti proses memahami sejarah dan karakter Palegongan Peliatan dari para pewaris tradisi. Untuk menjaga keaslian garapan, proses rekonstruksi melibatkan seniman yang memiliki hubungan langsung dengan perjalanan Palegongan Peliatan. Pembinaan tari dilakukan oleh Ni Wayan Sriathi atau Iluh Mas, salah satu penari Legong Lasem generasi 1969 yang pernah mendapat didikan langsung dari maestro seperti almarhum Gusti Biang Sengog, Anak Agung Gde Mandera, dan I Made Lebah. Sementara itu, pembinaan tabuh dipimpin oleh I Gusti Ngurah Sukra dan I Wayan Lantir yang memiliki keterkaitan dengan pewaris tradisi serta perkembangan gaya Palegongan Peliatan terdahulu.

Menghadirkan Karya Baru dengan Akar Klasik

Tidak berhenti pada upaya menghadirkan kembali karya lama, Sanggar Gamelan Suling Gita Semara juga mencoba menunjukkan bahwa tradisi tetap dapat berkembang. Dalam penampilannya, mereka turut menghadirkan dua karya baru, yakni Tabuh Kreasi Palegongan "Rah Rawuh" dan Tari Kreasi Palegongan "Sulur Waringin". Kedua karya tersebut menjadi bentuk eksplorasi baru yang tetap berpijak pada karakter Palegongan klasik, khususnya akar dari Legong Lasem dan Tabuh Liar Samas. Melalui perpaduan antara rekonstruksi dan penciptaan karya baru, kesenian klasik tidak hanya ditempatkan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga sebagai sumber inspirasi bagi generasi sekarang.

Pelestarian Budaya Melalui Proses Belajar dan Kreativitas

Panggung PKB XLVIII pun menjadi ruang bagi Desa Peliatan untuk menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak hanya dilakukan dengan menjaga bentuk lama, tetapi juga melalui proses belajar, pewarisan, dan kreativitas agar tetap hidup mengikuti perkembangan zaman. Dengan demikian, upaya pelestarian budaya tidak hanya terfokus pada aspek tradisional, tetapi juga pada aspek inovatif yang memungkinkan kesenian klasik terus berkembang dan relevan dengan kehidupan modern. Melalui penampilan di PKB, Palegongan Peliatan membuktikan bahwa kesenian klasik dapat terus hidup dan berkembang, serta menjadi bagian penting dari identitas dan kebudayaan masyarakat Bali.

Ilustrasi - Redaksi Jumper Media Bali

Posting Komentar

0 Komentar