Film Dokumenter Ki Ai Nirnur: Ogoh-Ogoh, A Manifestation of Art in Culture Tayang di Plaza Renon
Pendahuluan
Pada hari Minggu, 31 Mei, Plaza Renon di Denpasar menjadi saksi bisu penayangan film dokumenter Ki Ai Nirnur, yang merekam perjalanan penciptaan ogoh-ogoh karya Marmar Herayukti bersama STT Gemeh Indah, Denpasar. Film ini tidak hanya menampilkan proses pembuatan ogoh-ogoh, tetapi juga menghadirkan refleksi mengenai ambisi manusia dalam mengembangkan kecerdasan, sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga kesadaran di tengah perubahan zaman yang bergerak semakin cepat.Antusiasme Masyarakat
Penayangan film Ki Ai Nirnur di Plaza Renon disambut dengan antusiasme yang luar biasa dari masyarakat. Sekitar 100 penonton hadir pada sesi pertama dan memenuhi area pemutaran dengan penuh antusias. Sebelum pemutaran dimulai, suasana telah dipenuhi rasa penasaran dan semangat penonton untuk menyaksikan dokumenter budaya yang sarat nilai tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Bali masih sangat menghargai dan peduli dengan kebudayaan mereka.Pandangan Marmar Herayukti
Bagi Marmar Herayukti, konseptor dan maestro ogoh-ogoh, budaya merupakan aliran nilai yang terus bergerak dari masa ke masa melalui berbagai medium pencatatan dan ekspresi manusia. "Budaya yang kita saksikan, pahami, dan jalankan hari ini adalah gambaran tata laku manusia, baik yang diwariskan dari masa lalu maupun yang dibentuk pada masa kini untuk menjadi jembatan menuju masa depan," ungkap Marmar. Melalui Ki Ai Nirnur, Marmar ingin menghadirkan sebuah catatan yang tidak sekadar berbicara mengenai bentuk ogoh-ogoh, melainkan juga tentang kesadaran hidup.Kesadaran Hidup
Menurut Marmar, di tengah perkembangan teknologi yang semakin canggih, manusia tidak boleh kehilangan kesadaran dalam proses mencipta. "Kesadaran adalah surya yang apinya membuat manusia mampu mencipta. Teknologi dapat memiliki kepintaran untuk mencipta, namun tanpa kesadaran semuanya dapat menjadi gelap, dingin, dan kehilangan arah," tambahnya. Hal ini menekankan pentingnya menjaga kesadaran hidup dalam proses mencipta dan mengembangkan kecerdasan.Pandangan Sutradara
Sutradara sekaligus Produser film, Herda Martin, memandang ogoh-ogoh bukan hanya sebagai objek budaya, melainkan bagian dari memori dan perjalanan hidup masyarakat Bali. "Ketika ogoh-ogoh selesai dibuat, dirayakan, diarak, lalu akhirnya dibakar, yang hilang bukan hanya bentuk fisiknya, tetapi juga sebuah peristiwa budaya yang sangat besar," ujarnya. Herda berharap semakin banyak filmmaker, fotografer, dan pegiat dokumentasi di Bali yang ikut terlibat mendokumentasikan fenomena ogoh-ogoh.Pendekatan Visual
Pendekatan visual dokumenter ini turut diperkuat melalui gaya pengambilan gambar handheld yang dipilih oleh tim Director of Photography dan editor. Teknik tersebut digunakan untuk mengejar momen-momen hidup serta menghadirkan kedekatan emosional yang kuat. "Film ini tidak lahir dari kecanggihan teknologi semata, melainkan dari percakapan, kerja sama, kepercayaan, dan rasa saling menghargai yang dirajut bersama selama berbulan-bulan. Pada akhirnya, teknologi hanyalah alat, sementara kesadaran manusialah yang menyatukan semuanya menjadi sebuah karya," jelas tim DOP dan editor.Harapan Mahatma Pictures
Bagi Kadek Bisma, Executive Producer sekaligus Founder Mahatma Pictures, Ki Ai Nirnur menjadi langkah awal dalam menghadirkan karya budaya Bali yang tidak hanya kuat secara visual, tetapi juga kaya makna. "Lebih dari sekadar dokumentasi proses pembuatan ogoh-ogoh, Ki Ai Nirnur adalah catatan tentang kesadaran, regenerasi, dan cara kita memandang masa depan," terangnya. Penayangan di Plaza Renon menjadi momentum penting yang menunjukkan besarnya perhatian masyarakat terhadap film dokumenter budaya.Kesimpulan
Melalui Ki Ai Nirnur, Mahatma Pictures berharap film ini tidak hanya menjadi sebuah tontonan, tetapi juga pemantik lahirnya lebih banyak dokumentasi mengenai ogoh-ogoh dan kebudayaan Bali. Sebab pada akhirnya, dokumentasi adalah cara menjaga agar sebuah peradaban tetap dapat bercerita kepada masa depan. Dengan demikian, film Ki Ai Nirnur menjadi salah satu contoh nyata bagaimana kebudayaan dapat diabadikan dan disebarkan melalui media dokumenter, sehingga dapat dinikmati dan dipelajari oleh generasi mendatang.Ilustrasi - Redaksi Jumper Media Bali
0 Komentar