BBGRM 2026, Desa Dangin Puri Kauh Fokus pada Gotong Royong dan Penanganan Sampah
Desa Dangin Puri Kauh, sebuah desa yang terletak di wilayah Bali, telah memulai kegiatan Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) 2026 dengan antusiasme yang tinggi. Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Desa Dangin Puri Kauh, Anak Agung Ngurah Astika Ningrat, mengatakan bahwa masyarakat desa tersebut telah menunjukkan kesadaran yang tinggi dalam menjaga lingkungan dan mengelola sampah.Latar Belakang BBGRM 2026
Menurut Astika, fenomena persoalan sampah yang belakangan menjadi perhatian di Bali telah memicu meningkatnya kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan. "Semua warga banjar mulai rutin mempersiapkan diri dan turun langsung kerja bakti. Artinya, fenomena sampah ini membuat masyarakat belajar kembali mengenai penanganan sampah," ujarnya. Desa Dangin Puri Kauh memiliki lima banjar, yakni Banjar Tampak Gangsul, Banjar Tengah, Banjar Pucak Sari, Banjar Belaluan, dan Banjar Belaluan Sadmerta. Seluruh banjar dilibatkan dalam rangkaian kegiatan BBGRM tahun ini. Kegiatan BBGRM 2026 juga bertepatan dengan program rutin Jumat Bersih yang selama ini dilaksanakan desa.Kegiatan BBGRM 2026
Pelaksanaan kegiatan BBGRM 2026 dipadukan dengan aksi kebersihan lingkungan serta pelayanan sosial kepada masyarakat. "Kami menggelar pembagian alat kebersihan, donor darah, cek kesehatan, sekaligus evaluasi program untuk persiapan tahun 2027 nanti," kata Astika. Menurut Astika, selama pelaksanaan BBGRM, pihak desa masih memfokuskan kegiatan pada pemberdayaan masyarakat, terutama gotong royong dan kesehatan. Rencana menggelar lomba seni budaya pada tahun ini sementara ditunda karena anggaran lebih diarahkan untuk penanganan lingkungan dan persoalan sampah.Penanganan Sampah
Astika menilai persoalan sampah menjadi tantangan baru bagi masyarakat. Jika sebelumnya masyarakat terbiasa membuang sampah langsung ke tempat pembuangan akhir (TPA), kini masyarakat dituntut lebih mandiri dalam mengelola sampah di lingkungan masing-masing. "Sekarang masyarakat harus benar-benar belajar mandiri dan keluar dari zona nyaman dalam pengelolaan sampah," katanya. Melalui BBGRM 2026, pihaknya berharap masyarakat tidak hanya menjadikan gotong royong sebagai kegiatan seremonial, tetapi juga mampu membangun pola pikir baru tentang kepedulian lingkungan dan kebersamaan sosial. "Harapan kami masyarakat jangan diam di tempat. Jangan jadikan sampah sebagai alasan untuk tidak melakukan aksi bersih-bersih lingkungan. Semangat Vasudhaiva Kutumbakam dan Atma Kerthi harus diwujudkan melalui gotong royong nyata di masyarakat," ucapnya.Harapan dan Tantangan
Dengan demikian, Desa Dangin Puri Kauh berharap bahwa kegiatan BBGRM 2026 dapat menjadi momentum bagi masyarakat untuk membangun kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan. Namun, tantangan masih banyak, terutama dalam mengelola sampah dan meningkatkan kesadaran masyarakat. Astika berharap bahwa masyarakat dapat memahami pentingnya gotong royong dan kebersamaan dalam mengatasi persoalan lingkungan. "Kami berharap masyarakat dapat memahami bahwa gotong royong bukan hanya kegiatan seremonial, tetapi juga dapat membantu meningkatkan kualitas hidup dan lingkungan," katanya. Dengan demikian, Desa Dangin Puri Kauh telah menunjukkan komitmen yang kuat dalam mengelola lingkungan dan meningkatkan kesadaran masyarakat. Kegiatan BBGRM 2026 diharapkan dapat menjadi contoh bagi desa-desa lain di Bali untuk membangun kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan.Ilustrasi - Redaksi Jumper Media Bali
0 Komentar